Sabtu, 27 Juni 2015

Mimpi Semalam

22.50 Posted by Ibit Sukma No comments
Kulipat rukuh dan sajadahku dengan malas. Sudah terbayang bantalku yang empuk dan selimut tipisku yang hangat. Musik instrumental yang meninabobokanku akan terputar melalui handphone. Walaupun mungkin tercampur dengan suara adikku yang sibuk bermain playstation tepat di depan kamarku.
Ah, tak apa. Bila aku mengantuk, aku bisa mengabaikan semuanya.
“Aku tidur ya, Bu.”
*
Tidur setelah sholat subuh tidak pernah dianjurkan. Apalagi sebelumnya makan sahur. Tapi mau bagaimana lagi?
Kupejamkan mata. Gelap. Kubuka mataku. Gelap. Kupejamkan lagi. Kubuka lagi. Gelap.
Selimut, musik, dan kamar gelap. Aku siap untuk tidur.

TRIING

Sial. Siapa yang berani membuatku membaca dan membalas pesan tepat sebelum aku tidur? Haruskah kubuka? Mungkin harus. Siapa tahu ini penting.
Ternyata hanya orang yang bertanya tentang rankingku di daftar seleksi SMA. Sudah kubalas. Aku bisa tidur.

TRIING

Kenapa pesanku dibalas dengan cepat? Di saat aku terjaga, kenapa orang-orang membalas dengan lambat? Aku terlalu malas. Maafkan aku. Aku berjanji akan membuka dan membalasnya begitu aku bangun nanti.
*
Sudah berapa lama aku tidur? Kemarin aku bangun pukul sepuluh. Kemarinnya lagi pukul sebelas. Sekarang pasti belum terlalu siang karena juga belum ada sinar matahari yang masuk ke kamarku melalui jendela. Walaupun keadaan sudah lumayan terang. Ah iya. Aku hampir lupa janjiku sebelum aku tidur tadi.
Kuraih handphoneku dan kulihat isi notifikasinya. Aku tersentak. Pesan yang masuk terakhir bukan dari orang yang sama. Bukan dari orang yang menanyakan rankingku di daftar seleksi SMA tadi. Ini....

Dia.

Sudah lumayan lama sejak terakhir kami berkirim pesan. Terakhir ia hanya menanyakan tentang pembagian surat sekolah. Setelah itu, tidak ada lagi aku yang tertawa membaca balasannya. Atau aku yang menunggu pesannya sampai malam. Atau aku yang menyiapkan keberanian untuk menyapanya terlebih dahulu. Kukira hal ini mustahil akan berlanjut. Namun mengapa sekarang ....?

“Jangan tidur habis sahur. Ga baik.”

Begitu isinya. Entah apa yang kurasakan sekarang. Aku telah mengubur harapanku walaupun tidak terlalu dalam. Aku senang. Aku sedih. Dan kurasa, aku juga marah.

“Terlanjur. Ini aja baru bangun.”

Terkirim. Aku harus bersikap biasa. Aku membalasnya seperti aku yang biasanya. Namun keadaanku di sini sama sekali tidak biasa.
Aku tak ingin membohongi diri sendiri. Aku senang. Ya, aku senang. Aku sangat senang! Aku melompat dari kasurku dan berlari ke depan cermin. Kutatap bayanganku yang tersenyum sangat lebar. Aku terlalu senang.
Entah mengapa aku ingin mengganti pakaianku dan berlari ke luar rumah. Ini sudah menjadi kebiasaanku bila terlalu gembira. Aku sangat ingin berlari hingga aku tak dapat merasakan kakiku. Kadang kulakukan, kadang tidak. Tentu saja kulakukan ketika jalanan sepi. Segera kubuka lemariku dan mencari celana olahraga.

BRUK!

Sesuatu terjatuh mengenai jari-jari kakiku.
Apa ini? Biola? Sejak kapan aku memiliki biola? Aku bahkan tidak dapat memainkan alat musik ini.
Kulihat isi lemariku.
Ini bukan lemariku.
Lemariku berisi pakaian dan beberapa alat fotografi. Bukan koleksi biola. Ada selusin biola di lemari ini. Tidak termasuk yang kupegang saat ini. Mungkin tidak ada salahnya aku mencoba memainkan biola ini. Aku sering melihat temanku bermain biola dan tampaknya tidak terlalu sulit.
*
Telingaku sakit. Aku menggesek senarnya terlalu keras. Alih-alih menghasilkan suara merdu, malah suara tak bernada yang kudengar.
Kenapa aku berada di tempat tidur? Semenit yang lalu aku berdiri di depan lemari.
Segera kubuka lemariku. Pakaian dalam, kaos berserakan, celana yang tak terlipat rapi, jilbab, dan rok serta kemeja yang tergantung. Di bagian bawah terdapat tas-tas bekas dan kotak hitam berisi kamera. Tidak ada biola.
Tadi itu hanya mimpi.
Aku baru menyadari hal itu setelah memejamkan mataku. Aku berniat melanjutkan tidurku. Bukan karena aku ingin melanjutkan mimpi sebelumnya. Namun karena sinar matahari belum menyapa kamarku.
Mungkin sedikit lagu dapat menemaniku. Kuraih handphone, seketika aku teringat janjiku. Mau tak mau aku harus menepatinya.
Aku tersentak. Lagi. Aku merasa de javu dengan keadaan ini.
Aku meraih handphone, aku melihat notifikasi, dan aku tersentak karena aku menerima pesan dari orang yang kupikir tidak akan menghubungiku.

“Bangun.”
*
Rasa senang ini terulang lagi. Ya. Aku baru saja merasakannya di dalam mimpi. Siapa yang menyangka mimpimu akan menjadi nyata dalam sekejap? Tentu saja mimpi yang kubicarakan adalah mimpi yang kau dapat saat tidur.

“Udah bangun :b”

Terkirim.
Aku menggigit gulingku. Aku sangat gembira hingga ingin berteriak. Namun tak bisa. Aku akan dicap sebagai orang gila jika aku berteriak hanya karena mendapat pesan darinya.

TRIING

Ah, pesanku dibalas.

“lihat ke pintu”
*
KRIIIEEEEKK

“Lho. Kukira kamu belum bangun. Makanya aku langsung masuk kamar. Aku mau nyapu.”
“Aku juga barusan bangun, mbak. Nyapu aja nggak apa-apa.”
“Jendelanya mbak buka, ya?”
“Iya.”
Sinar matahari segera masuk melalui jendela kamarku. Di luar kamar, adikku dan temannya berkutat dengan game di playstation sambil sesekali berteriak. Tentu saja. Betapa bodohnya aku. Adikku pasti akan bermain playstation dari subuh hingga jam makan siang. Seharusnya aku sadar yang tadi itu hanyalah mimpi. Karena suasananya sangat sepi.
Berbeda dengan detik ini. Suara orang berbincang-bincang di depan rumah, teriakan adikku di luar kamar, kucing yang mengeong karena kelaparan, dan suara mesin cuci tua yang dipaksa untuk membersihkan setumpuk pakaian kotor.
Ah, iya. Janji itu. Aku harus menepatinya sekarang karena hari sudah mulai siang.
Sebelum membuka kunci handphone, aku berdoa. Semoga aku mendapat pesan darinya. Seperti di dalam mimpiku tadi. Atau seperti mimpi yang ada di dalam mimpiku tadi.






“Wah rankingmu lumayan bagus. Semoga masuk ya. Kamu deg2an ga?”

Selasa, 03 Maret 2015

Es Kado dan Cilok

02.11 Posted by Ibit Sukma 5 comments
Hampir tiga tahun yang lalu aku resmi jadi anak SMP. Walaupun fisik nggak mendukung, sih. Kurus, pendek, item, dekil, seragam cingkrang. Nggak banget.
Di sekolah baru pastinya aku bertemu lingkungan baru, suasana baru, teman baru, guru baru, buku baru, pelajaran baru....

SMP beda sama SD.
Beda.
Banget.

Dulu waktu SD, aku nggak pernah melakukan hal-hal seperti; mengerjakan PR di sekolah, ulangan (kadang) nanya sebelah, fotokopi catatan teman karena malas, baca komik di tengah pelajaran, ngasih contekan, ngunyah kerupuk ketika guru sibuk ngasih materi, pamit ke kamar mandi padahal ke kantin, selfie sembunyi-sembunyi, atau ngadep laptop dan pura-pura mengerjakan presentasi padahal aslinya.....
Ngestalk twitter gebetan Nonton film.
Dengan seluruh kegiatan tadi, Alhamdulillah aku belum pernah 'ketendang' dari ranking 10 besar :)

Ada lagi satu hal yang membedakan kehidupan SD ku dan SMP ku sekarang.

JAJAN.

Enam tahun menimba ilmu di sekolah dasar, aku tidak pernah membeli makanan (baca: jajan) dari luar sekolah. Boro-boro mau beli. Yang jual aja nggak ada.
Oke, mungkin aku pernah jajan di luar sekolah. Pernah ada seorang bapak-bapak yang menjual es kado dan kebetulan lewat di depan kami, anak-anak yang sedang menunggu antar-jemput. Salah satu kakak kelasku menghentikan gerobak bapak tersebut dan membeli dagangannya. Es krim rasa melon berbentuk balok yang ada di tangannya membuatku dan yang lainnya tergiur. Akhirnya kami serentak memborong dagangan bapak tersebut.
Beberapa hari berikutnya kami rajin membeli es kado yang murah bin enak itu. Harganya hanya Rp500 per potongan besar. Mungkin hampir seminggu lebih aku makan es kado setiap pulang sekolah.
Hingga pada suatu hari, di hari biasa ketika aku dan teman-temanku menunggu antar-jemput sambil menggenggam uang receh untuk membeli es kado, kami masuk mobil antar-jemput dengan tangan kosong. Tanpa plastik berisi es kado yang meleleh. Uang yang kami bawa masih utuh. Penjual es kado tidak lewat hari itu. Begitupun hari berikutnya. Rasanya hampa, memang.
Berhari-hari setelah kejadian tersebut, aku mendengar kabar bahwa kepala yayasan lah yang membuat kami tak bisa menikmati es kado itu lagi. Beliau menghimbau pada bapak penjual es kado untuk tidak berjualan lewat depan sekolah. Waktu itu aku masih kelas 2 SD. Aku masih tidak paham apa yang dipikirkan oleh kepala yayasan. Rasanya geram sekali. Rasanya aku ingin pindah ke sekolah yang membolehkan muridnya jajan di luar sekolah. Sungguh.
Empat tahun berikutnya kujalani tanpa jajan di luar sekolah. Sekolahku tidak membolehkan para siswanya jajan di luar sekolah, namun mengijinkan kami membawa bekal dari rumah. Aku yang jarang membawa bekal hanya bergantung pada teman-temanku yang rajin membawa bekal, dan katering dari sekolah yang menurutku tidak seberapa rasanya.

Setelah lulus dan menjadi murid SMP, aku diberi uang saku bulanan. Aku mulai berlatih mengatur pengeluaranku sendiri. Dari dulu hingga sekarang, aku belum bisa mengatur pengeluaranku. Kadang kurang, kadang cukup. Uang bulanan tersebut HARUS cukup dipakai untuk 30 hari. Entah untuk uang saku harian, uang fotokopi soal, kas kelas, uang renang, kadang jalan-jalan bersama teman aku memakai uang bulanan itu.
Rata-rata pemakaian uangku per hari mungkin Rp10,000. Untuk makan dan transport pulang.
NAH. Di sekolahku ini terdapat empat kantin dan satu koperasi. Tiap-tiap kantin memiliki ciri khasnya sendiri dan yang paling disayangkan adalah,

SEMUANYA ENAK.

Hampir setiap istirahat aku ke kantin bersama temanku. Biasanya aku menghabiskan uang Rp3,000 tiap ke kantin. Dengan menu yang berbeda-beda. Kadang dua roti bakar. Kadang dua lunpia dan satu kopi. Kadang dua bungkus biskuit dan satu kopi. Rasanya nggak afdol kalau nggak jajan Rp3,000.
Jika pada istirahat pertama dan kedua aku ke kantin, berarti aku sudah bisa menghabiskan uang sebesar Rp6,000. Tersisa Rp4,000.
Seperti siswa lainnya, aku akan senang bila bel pulang berbunyi. Setelah ke luar kelas, lalu sholat di musholla, kini saatnya pulang. Setelah ke luar dari gerbang sekolah, aku akan melihat pemandangan yang nggak akan membuatku bosan.






*biasanya lebih rame dari ini*

Yap. Selain jajan di kantin, tiap pulang sekolah aku juga jajan di depan sekolah. Ada terlalu banyak pilihan di sini. Siomay, batagor, leker, tela goreng, cireng, tahu gejrot, cimol, bakso, es apollo, baru-baru ini ada yang berjualan es susu berbagai rasa. Dan yang paling favorit, cilok. Teksturnya kenyal, rasanya gurih, paling enak dimakan waktu masih panas dan diberi saos. Dan satu lagi, cilok itu murah.
Jika aku bosan dengan makanan kantin, di sinilah tempat pelampiasanku. Yang di dalam foto itu belum seberapa. Di seberang masih ada warung yang menjual makanan berat seperti nasi goreng, hot dog, atau mie goreng. Di sebelah kanannya terdapat kedai cappucino cincau. Dan di sebelah kirinya ada warung es krim. 
Nggak heran, sih, kalau di daerah ini banyak banget yang jualan jajanan. Di sini memang kawasan sekolah. Mulai dari TK sampai SMA. Semua ada.

Aku sadar bahwa akulah yang salah atas uang saku bulanan yang terasa kurang. Aku terlalu sering jajan. Jarang sekali aku menyisakan uang. Kadang aku memakai uang lebih dari rata-rata sehingga di akhir bulan, uangku benar-benar limit. Yang awalnya Rp10,000-Rp12,000 per hari, bisa jadi Rp6,000 per hari. Pernah aku hanya membawa Rp3,000 ke sekolah. Aku jajan di kantin Rp1,000 dan sisanya untuk naik angkot. 

Ternyata, bersekolah di tempat yang membolehkanmu jajan di luar itu juga nggak selalu enak. Dulu waktu SD, uang Rp5,000 bisa tahan seminggu. Sekarang mah apa atuh, Rp15,000 dihabisin sehari juga bisa.   
Aku belum tahu bagaimana aku waktu di SMA nanti. Tetap boros seperti di SMP, atau lebih bisa mengatur uang. Semoga pilihan kedua jadi masa depanku, ya ^^

Do'ain aja.




Salam Cilok.

Minggu, 21 Desember 2014

It's (not) All About My Mom

20.48 Posted by Ibit Sukma , 16 comments
Hari ini aku bangun pukul 08.00 WIB gara-gara suara televisi yang terlalu keras tepat di depan kamarku. Dengan langkah gontai aku membawa ponselku ke kamar ibu, dan nyungsep di antara bantal-bantal. Setelah itu aku melakukan rutinitas pagi. Mengecek recent updates di BBM. Semakin aku scroll ke bawah, semakin banyak display picture  bermunculan. Kubuka satu per satu. Hampir semuanya adalah foto bersama ibu. Aku tercekat.

Tanggal berapa ini?

22 Desember 2014.

***

Yang pertama terlintas di benakku setelah aku mengetahui bahwa hari ini adalah Hari Ibu adalah kejadian 9 tahun yang lalu. Ketika aku masih di Taman Kanak-kanak. Aku menulis surat di secarik kertas sobekan. Aku lupa apa isinya. Kalau tidak salah;

“Ibu kenapa sih suka marah-marah sama aku?”

Surat itu kuletakkan di atas meja komputer agar Beliau bisa melihatnya selepas pulang kerja. Dan detik itupun tiba. Aku sembunyi di luar kamar ibu setelah ibuku masuk kamar. Beberapa menit kemudian Ibu membuka pintu kamar dan menyuruhku masuk. Ibu menuntunku agar duduk di tepi kasur, lalu ibu berjongkok agar dapat menyesuaikan tinggi denganku.
“Kamu yang nulis surat ini?” Ibuku menyodorkan surat yang dimaksud. Surat kecil tadi. Aku menjawabnya dengan anggukan kecil. Ada rasa takut di dalam diriku saat itu. Lalu ibuku tersenyum kecil.
“Menurutmu Ibu galak?” Tanya Ibu lagi.
“Lha aku sering dimarahin….” Jawabku.
“Itu karena Ibu sayang sama anaknya. Kamu bikin kesalahan, Ibu marahin. Biar kamu sadar. Semua orang tua nggak ada yang bermaksud marah pada anaknya. Semua itu ada alasannya. Karena Ibu sayang. Biar kamu jadi anak yang baik. Udah. Itu aja.”
Lalu aku menangis. Dan aku lupa apa kejadian berikutnya.

Sejak saat itu, hingga kini, aku masih menjalani hari diiringi teriakan-teriakan ibuku. Kadang menyebalkan memang. Tak jarang aku menangis dibuatnya. Pernah saking frustasinya, aku mengobrak-abrik kamarku sampai benar-benar tak ada lagi barang yang bisa kubuat berantakan. Setelah itu aku masih menangis, dan termenung. Dan mengingat kejadian tadi. Perlahan aku menghentikan tangisanku dan membereskan kamarku seperti semula.

Tidak ada Ibu yang menginginkan anaknya menjadi orang jahat, orang yang tidak baik, orang bodoh. Pasti mereka mengharapkan yang terbaik. Namun beda Ibu, beda cara. 
Ibu dari salah satu temanku, misalnya. Selalu menuntut temanku agar selalu meraih peringkat pertama di kelas. Ibunya tak pernah mengijinkan dia untuk membeli komik, novel, dan berbagai jenis buku hiburan lainnya. Ibunya hanya mau membelikan dia buku pelajaran, buku olimpiade, buku latihan soal, dan sejenisnya. Beruntung, Beliau masih membolehkan anaknya pergi bermain bersama teman setelah ujian selesai.

Ibuku sendiri tak pernah mengekangku dalam hal akademis. Aku jarang disuruh belajar tiap malam. Namun Ibuku selalu mengingatkan agar aku selalu menulis, jangan terlalu sering pergi bersama teman, dan selalu tidur siang setelah pulang sekolah.

Ibuku rajin mengajakku pentas bersamanya di berbagai acara. Ketika aku malas dan tidak bergairah, tentu saja aku menolak. Daripada hasilnya mengecewakan. Sesekali aku pentas sendirian. Menyanyi diiringi gitar. Malu rasanya ditatap banyak orang. Namun melihat Ibuku yang tampak antusias, aku berusaha menepis rasa takut dan malu. Karena aku harus bisa lebih baik dari Ibuku.

Ibuku sering mengajakku selfie. Awalnya terasa aneh. Karena biasanya aku selfie bersama teman yang seumuran. Terus kenapa kalau aku selfie bersama ibuku sendiri? Pertanyaan itu yang membuatku tak pernah keberatan bila diajak selfie bersama ibu. Tak ada alasan untuk menolak selfie bersama ibuku. Ibuku bisa membuat wajah aneh di depan kamera, sama halnya sepertiku. Kalau begini, siapa yang berhak disalahkan atas sifat narsisku? =))

Ibuku yang mengajarkanku tentang dunia maya. Saat aku berumur enam tahun, aku telah diajari cara mengetik yang baik dan benar. Teringat jelas ketika ibuku memamerkan kemampuannya yang dapat mengetik tanpa melihat keyboard. Lalu Ibu membuatkanku blog. Aku tidak suka pada templatenya. Berkali-kali ibu mengganti template blog sampai aku benar-benar menyukai tampilannya. Setelah itu, ibu mengenalkanku pada Facebook. Beliau menawarkanku untuk membuat akun facebook. Awalnya aku menolak dengan alasan ‘belum cukup umur’. Tapi lama-kelamaan aku mulai penasaran. Dengan memalsukan umur, akhirnya aku dapat membuat akun sosmed pertamaku itu. Yang masih aktif hingga sekarang. Setelah itu aku dapat membuat akun sosmed lainnya tanpa bantuan ibuku.

Ibuku memang berbeda dengan ibu-ibu lainnya. Ibuku seperti anak kuliahan. Orang yang baru pertama kali bertemu denganku percaya saja bila ibuku mengenalkanku sebagai adiknya. Bukan anaknya. Walaupun akhirnya aku tetap dikenalkan sebagai anaknya.

Ibuku memiliki akun facebook yang sering menghias timelineku. Ibuku rajin nge-twit di akun twitternya yang memiliki 1000 followers lebih. Ibuku memiliki Soundcloud yang berisi rekaman lagu Swaranabya. Ibuku memiliki akun Instagram yang berisi pose yoga, makanan, challenge, ataupun selfie. Ibuku punya BBM, WhatsApp dan beberapa chat app lain. Ibuku tidak suka bergosip. Ibuku tidak tahan mendengar pidato kepala sekolahku. Ibuku selalu tahu apakah aku sedang menyukai orang lain (baca:cowok) atau tidak. Ibuku pembuat donat dan roti manis dan pizza. Ibuku selalu berbagi pakaian denganku (baca:aku yang sering minjem baju ibuku).

Dan Ibuku akan selalu menjadi Ibuku.



Selamat Hari Ibu.

Aku dan Blog

17.23 Posted by Ibit Sukma 3 comments
Assalamu’alaikum~
Kok nggak dijawab salamnya? Ntar dosa, lho. Jawab dulu gih.
.
.
.
.
.
.
Hai! Ini first post di blog kedua (atau ketiga?) ku. Sama seperti blogger lainnya, post pertama digunakan untuk menyapa pembaca (kasian kan, jomblo nggak ada yang nyapa) dan memperkenalkan diri sendiri secara singkat.
Aku sendiri jarang ngasih tau nama lengkap ke publik. Tapi aku sering dipanggil Ibit. Belakangan dipanggil ‘Obot’ juga mlengo, sih. Semua sosmed mulai dari Twitter, Facebook, AskFm sampai Instagram pakai user @Ibitsukma (follow, ya!)
Jenis kelaminku cewek, Statusku single (terus kenapaaaa?). Aku suka selfie (terus hasilnya dihapus karena malu kalo hp dipinjem orang terus dibuka galerinya), fotografi, baca komik, main hp, dan…. kamu *eeaaaa*. Sekarang aku kelas 3 SMP di salah satu SMP favorit di Semarang (cie, mau UN cieeee,). Sekolah yang membuat gadis sepertiku berubah drastis. Merubah gadis yang teramat rajin menjadi seorang gadis pemalas dan cinta mati pada kasurnya. Merubah gadis yang polos dan lugu menjadi seorang gadis yang ……..

Setengah polos dan setengah lugu.

Ada beberapa alasan kenapa aku bikin blog baru :
  1. Menurut tes bakat dan minat yang diadakan di sekolahku beberapa hari yang lalu, aku mendapatkan jalur musik di peringkat pertama dan jalur literatur di peringkat kedua. Aku ingin mengembangkan kemampuan menulisku yang udah ‘nggak banget’ melalui blog ini :3
  2. Setelah mendapat hasil tes bakat-minat, aku langsung membuka blog lamaku di rumah. Tapi… ada yang aneh. Kenapa aku harus log in menggunakan akun google? Padahal sebelumnya aku memakai akun yahoo. Selanjutnya aku membuat akun google dan membuat blog baru. Blog yang kalian baca saat ini JJJJJ
    Dan ternyata, setelah dicoba, blog lamaku bisa dibuka walaupun aku log in dengan akun yahoo. T** banget nggak sih?
  3. Setelah kejadian di atas, aku sempat bingung harus memakai blog yang mana. Akhirnya aku memutuskan untuk memakai blog yang baru. Karena menurutku, ‘aku yang dulu bukanlah yang sekarang’. (Hah?)
    Nggak tau, ya… Rasanya aneh aja nulis lagi di blog yang udah kumuh karena ditinggal setahun :v Dan kayaknya aku bakal ngerubah sedikit genre tulisanku. Dulu aku lebih sering menulis cerpen dan cerbung. Sekarang aku lebih ingin bercerita tentang pengalaman hidupku/? (bilang aja nggak punya ide buat cerpen, Bit-_-)


Teruntuk kalian yang penasaran kenapa blog ini bernama ‘kuaci’….
Kuaci identik dengan menghabiskan waktu, dan enak dimakan kapan aja. Dimakan waktu lagi boker (mungkin) juga enak. Dan, kuaci itu cemilan sejuta umat. Harapanku sih simpel. Semoga blog ini bisa seperti kuaci yang menghibur semua orang di waktu senggang, kapanpun.

Mungkin sampai sini aja first postku. Do’ain aku ya, biar bisa rajin nulis….

Ciao! ;)